Pustu Soligi, Harapan untuk Masa Depan Bebas Stunting

Pengecekan kesehatan anak di Pustu Soligi

Pengecekan kesehatan anak di Pustu Soligi

“Kami juga proaktif mengunjungi rumah-rumah balita berisiko stunting dan memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu agar memperhatikan gizi anak-anak serta rutin memeriksakan kandungan ke puskesmas,” ungkap Murni. Menurutnya, perubahan paling nyata terlihat dari penurunan jumlah anak dengan stunting dan kekurangan gizi, dari 25 anak kini tersisa 4 anak. “Harapan kami, tahun depan bisa benar-benar nol, dan anak-anak Soligi tumbuh lebih sehat,” tegasnya.

Selain memperkuat layanan kesehatan dasar, program ini juga membangun kapasitas masyarakat. Sebanyak 13 kader posyandu telah dilatih dalam pemantauan tumbuh kembang anak, 354 anak mendapatkan pendampingan, dan lebih dari 300 paket PMT didistribusikan untuk mendukung perbaikan gizi keluarga.

Implementasi PPM yang terukur tercermin melalui program Soligi Zero Stunting di Desa Soligi. Program ini dikembangkan sebagai intervensi kesehatan berbasis komunitas yang mengintegrasikan pendampingan keluarga, penguatan kader kesehatan, dan edukasi gizi melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan tenaga kesehatan. Pendekatan ini mendorong perbaikan yang terukur pada status kesehatan anak-anak yang sebelumnya teridentifikasi mengalami stunting.

Atas dampak dan inovasi yang dihasilkan, program Soligi Zero Stunting meraih Penghargaan Subroto 2025 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk kategori Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Terinovatif Komoditas Mineral bidang Kesehatan. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kontribusi Harita Nickel dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) dan kebijakan nasional percepatan penurunan stunting.

Keberlanjutan program juga menjadi fokus utama. Pemerintah desa berkomitmen mengalokasikan dana operasional Pustu dan pemeliharaan fasilitas air bersih, sementara Pustu dikembangkan sebagai pusat layanan kesehatan terpadu, lengkap dengan taman ramah anak dan kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA).

Selain Desa Soligi, Harita Nickel juga menjalankan program penurunan stunting di desa lingkar operasionalnya di Pulau Obi berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Melalui keberhasilan program Soligi Zero Stunting, Harita Nickel menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif dan berbasis masyarakat dapat menjadi solusi efektif dalam mengatasi stunting di wilayah terpencil. (red)