Diplomasi  Presiden Prabowo di WEFPerkuatDaya Saing Indonesia

Pidato Presiden Prabowo

Pidato Presiden Prabowo

Danantara dirancang untuk merombak tata kelola BUMN, meningkatkan efisiensi, serta menegakkan standar internasional. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi ekonomi diarahkan pada perbaikan struktural, bukan solusi jangka pendek.

Di luar agenda ekonomi, Prabowo menegaskan peran moral Indonesia di panggung global. Pada 23 Januari 2026, Presiden menandatangani Piagam Board of Peace di Davos. Keikutsertaan tersebut menandai komitmen Indonesia dalam mengawal proses transisi dan rekonstruksi Gaza pascakonflik.

Prabowo memosisikan Indonesia sebagai penjaga agar proses tersebut tetap mengarah pada solusi dua negara dan menghormati hak rakyat Palestina. Diplomasi tersebut melanjutkan peran aktif Indonesia dalam upaya perdamaian Timur Tengah yang telah dijalankan pada tahun sebelumnya.

Keseluruhan rangkaian kunker global tersebut membentuk satu benang merah yang jelas. Prabowo memadukan diplomasi ekonomi, penegakan hukum, pembangunan manusia, dan peran kemanusiaan dalam satu strategi besar. Inggris dan Davos menjadi etalase yang memperlihatkan wajah baru Indonesia: negara yang percaya diri, stabil, dan berani menegaskan kepentingannya di tengah dinamika global.

Hasil yang dibawa pulang dari kunker global tersebut menegaskan bahwa diplomasi tidak berhenti pada seremoni. Investasi Rp90 triliun, ratusan ribu lapangan kerja, komitmen perdamaian, serta peta transformasi ekonomi menjadi bukti bahwa Indonesia bergerak dengan arah yang terukur.

Di bawah kepemimpinan Prabowo, panggung global dimanfaatkan bukan hanya untuk berbicara, tetapi untuk memastikan masa depan ekonomi dan peran Indonesia di dunia berjalan seiring.

Setiap pertemuan diarahkan pada hasil yang terukur, setiap forum dimanfaatkan untuk menegaskan posisi tawar, dan setiap kesepakatan dirancang agar berdampak langsung bagi kepentingan nasional.

Pendekatan tersebut menandai pergeseran diplomasi Indonesia dari sekadar partisipasi simbolik menuju kepemimpinan yang aktif, pragmatis, dan berorientasi hasil, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai aktor yang semakin diperhitungkan dalam percaturan global. (*)

Oleh : Aditya Akbar

Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia