Pertamina Diminta Beri Efek Jera Pangkalan Mitan Nakal

Abdurrachman Arsyad (Ketua Komisi II DPRD Tidore)

Abdurrachman Arsyad (Ketua Komisi II DPRD Tidore)

TIDORE – Menyikapi persoalan terkait dengan adanya kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Minyak Tanah, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tidore Kepulauan, Abdurahman Arsyad, meminta Pertamina bersikap untuk menegur pangkalan minyak tanah yang bandel.

Pasalnya, berdasarkan fakta di lapangan, ketika minyak tanah didistribusikan sampai ke pangkalan, yang menjadi soal hampir di semua Kelurahan/Desa, itu masyarakat yang datang membeli kebanyakan tidak dapat, dengan alasan kehabisan minyak tanah.

“Pekan kemarin Saya bersama ketua DPRD Kota Tidore H. Ade Kama bersama Ketua komisi III, Ardiansyah Fauji, telah melakukan kunjungan ke Pertamina Ternate untuk meminta terkait dengan pendistribusian minyak tanah yang bersubsidi,” ujarnya.

Untuk itu, dengan adanya masalah tersebut, pertamina sudah harus memberikan penegasan kepada distributor minyak tanah, agar dapat memberikan efek jera kepada pangkalan-pangkalan minyak tanah yang diduga nakal.

“Kami berharap kalau kewenangannya itu ada di pihak pertamina tolong menegur langsung ke distributor dan memberikan efek jerah bagi pangkalan-pangkalan yang nakal, karena bukan hanya sekedar dalam tahapan politik saja yang kemudian persoalan ini dia terjadi, tapi hampir setiap kali minyak tanah ini turun selalu terjadi kelangkaan,” pungkasnya.

Pria yang akrab disapa On itu, mengaku, BBM jenis minyak tanah bersubsidi, pada prinsipnya tidak melayani soal angkutan khusus seperti speedboat, tetapi fakta yang ada di lapangan, terdapat beberapa catatan penting apabila ada rumah tangga yang tidak mengambil jatah minyak tanahnya itu diambil oleh kalangan speed boat.

Menurutnya, pasokan minyak tanah yang didistribusikan oleh Pertamina ke Kota Tidore itu sudah sesuai dengan kebutuhan rumah tangga berdasarkan jumlah Kepala Keluarga (KK).

Olehnya itu, penyebab kelangkaan BBM ini bukan karena kekurangan jatah per masing-masing KK yang diturunkan, tetapi nakalnya pangkalan-pangkalan dengan sengaja membatasi jumlah kuota yang diberikan pertamina ke masing-masing KK.

“Jumlah kuota BBM jika dibagi rata dengan jumlah KK, bisa di dapat sebanyak 20 Liter, tetapi ada praktek nakal yang dilakukan oleh pangkalan, sehingga warga dapat hanya 15 liter, selain itu, pasokan minyak tanah turun hari ini, besoknya sudah habis. Padahal ada warga yang belum ambil tetapi jatahnya sudah habis, hal ini bukan karena persoalan tidak cukup tetapi sengaja dijual keluar dengan harga yang begitu tinggi oleh para pangkalan diluar dari subsidi,” pungkasnya. (ute)